Home » » Aliran Salafiyah

Aliran Salafiyah


Kata salaf secara bahasa bermakna orang yang telah terdahulu dalam ilmu, iman, keutamaan dan kebaikan. Berkata Ibnul Mandzur (Lisanul Arab 9/159): “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang, orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu dan memiliki umur lebih serta keutamaan yang lebih banyak”. Oleh karena itu, generasi pertama dari Tabi’in dinamakan As-Salafush Shalih. Adapun secara istilah, maka dia adalah sifat pasti yang khusus untuk para sahabat ketika dimutlakkan dan yang selain mereka diikutsertakan karena mengikuti mereka.
Al-Qalsyaany berkata dalam Tahrirul Maqaalah min Syarhir Risalah (q 36): As-Salaf Ash-Shalih adalah generasi pertama yang mendalam ilmunya lagi mengikuti petunjuk Rasulullah dan menjaga sunnahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih mereka untuk menegakkan agama-Nya dan meridhoi mereka sebagai imam-imam umat.
Menurut Thablawi Mahmud Sa’ad, salaf artinya ulama terdahulu. Salaf terkadang dimaksudkan untuk merujuk generasi sahabat, tabi’i, tabi’ tabi’in, para pemuka abad ke-3 H., dan para pengikutnya pada abad ke-4 yang terdiri atas para Muhadditsin dan lainnya. Salaf berarti pula ulama-ulama saleh yang hidup pada tiga abad pertama Islam. Sedangkan menurut as-Syahrastani, ulama salaf  adalah yang tidak menggunakan ta’wil (dalam menafsirkan ayat-ayat mutasabihat) dan tidak mempunyai faham tasybih (anthropomorphisme). Sedangkan Mahmud Al-Bisybisyi dalam Al-Firaq Al-Islamiyyah mendefinisikan salaf sebagai sahabat, tabi’in, dan tabi’in yang dapat diketahui dari sikapnya yang menampik penafsiran yang mendalam mengenai sifat-sifat Allah yang menyerupai segala sesuatu yang baru untuk menyucikan dan mengagungkan-Nya.[1]
Adapun nisbat Salafiyah adalah nisbat kepada Salaf dan ini adalah penisbatan terpuji kepada manhaj yang benar dan bukanlah madzhab baru yang dibuat-buat. Salafiyah adalah sikap atau pendirian para ulama Islam yang mengacu kepada sikap atau pendirian yang dimiliki para ulama generasi salaf itu. Kata salafiyah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘terdahulu’, yang maksudnya ialah orang terdahulu yang hidup semasa dengan Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in. Salafiyah ialah orang-orang yang mengidentifikasikan pemikiran mereka dengan pemikiran mereka dengan pemikiran para salaf.[2]
A.                 Karakteristik dan Perkembangan Salafiyah.
1)                 Karakteristik Ulama Salaf/Salafiyah
Ibrahim Madzkur (dar Al-ma’arif, Mesir. 1978 hlm 30) menguraikan karakteristik ulama salaf atau salafiyah sebagai berikut:
a.         Mereka lebih mendahulukan riwayat (naql) dari pada dirayah (aql).
b.        Dalam persoalan pokok-pokok agama (ushuluddin), dan persoalaan-pesoalan cabang agama (furu’ad-din), mereka hanya bertolak dari penjelasan Al-kitab dan As-sunah.
c.         Mereka mengimani Allah tanpa perenungan lebih lanjut (tentang dzat-Nya) dan tidak pula mempunyai paham anthropomorphisme.
d.        Mereka memahami ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna lahirnya, dan tidak berupaya untuk menakwilkannya.[3]
2)                 Perkembangan Salafiyah di Indonesia
Menurut Harun Nasution, secara kronologis salafiyah bermula dari imam Ahmad bin Hambal. Lalu ajarannya dikembangkan Imam Ibn Taimiyah, kemudian disuburkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab, dana akhirnya berkembang di dunia Islam secara sporadis.[4]
Di Indonesia sendiri, gerakan ini berkembang lebih banyak dilaksanakan oleh gerakan-gerakan Persatuan Islam (Persis), atau Muhammadiyah. Gerakan-gerakan lainnya, pada dasarnya juga dianggap sebagai ulama salaf, tetapi teologinya sudah dipengaruhi oleh pemikiran yang dikenal dengan istilah logika. Sementara itu, para ulama yang menyatakan diri mereka sebagai ulama salaf, mayoritas tidak menggunakan pemikiran dalam membicarakan masalah teologi (ketuhanan).
Dalam perkembangan berikutnya, sejarah mencatat bahwa salafiyah tumbuh dan berkembang pula menjadi aliran (mazhab) atau paham golongan, sebagaimana Khawarrij, Mu’tazilah, Maturidiyah, dan kelompok-kelompok Islam klasik lainnya. Salafiyah bahkan sering dilekatkan dengan ahl-sunnah wa al-jama’ah, di luar kelompok Syiah.
 Di bawah ini di jelaskan beberapa ulama salaf dengan metode dan beberapa tentang pemikirannya, terutama yang berkaitan dengan persoalan-persoalan kalam.
B.                 Tokoh-Tokoh Ulama Salafiyah
1.                  Imam Ahmad bin Hanbali
Ibn Hanbal dilahirkan di Bagdad pada tahun 164 H/780 M, dan wafat 241 H/855 M. Ia semasa hidupnya dikenal sebagai orang zahid. Hampir setiap hari ia berpuasa dan hanya tidur sebentar dimalam hari. Ia juga dikenal sebagai seorang dermawan. Dalam memahami ayat-ayat Qur’an, Ibn Hanbal lebih suka menerapkan pendekatan lafzi (tekstual) dari pada pendekatan ta’wil, terutama yang berkaitan dengan sifat-sitat Tuhan dan ayat-ayat mutasyabihat.
Hal ini terbukti ketika ia ditanya tentang penafsiran ayat Q.S Thaha:5, berikut :
ß`»oH÷q§9$# n?tã ĸöyèø9$# 3uqtGó$# ÇÎÈ
Artinya: “(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy”.(Q.S. Thaha:5).
Dalam hal ini Ibn Hanbal menjawab :
Istawa diatas Arays terserah pada Allah dan bagaimana saja dia kehendaki dengan tiada batas dan tiada seorang pun yang sanggup menyipatinya.”
Dan ketika ditanya tentang makna hadits nuzul (Tuhan turun kelangit dunia), ru’yah (orang-orang beriman melihat Tuhan di akhirat), dan hadits tentang telapak Tuhan, Ibn Hanbal menjawab:
Kita mengimani dan membenarkannya, tanpa mencari penjelasan cara dan maknanya.”
Dari pernyataan diatas , tampak bahwa Ibn Hanbal bersikap menyerahkan (tafwidh) makna-makna ayat dan hadits mutasyabihat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menyucikan-Nya dari keserupaan makhluk. Ia sama sekali tidak menta’wilkan pengertian lahirnya.
Persoalan yang dihadapi Ibn Hanbal, ialah mengenai status Al-Qur’an, faham yang diakui oleh pemerintah pada saat itu adalah Al-Qur’an tidak bersifat Qadim, tetapi baru dan diciptakan. Faham adanya qadim disamping Tuhan berarti syirik (menduakan Tuhan), Ibn Hanbal tidak sependapat dengan faham tersebut, sehingga membuatnya dipenjara beberapa kali.

2.                  Ibn Taimiyah
Nama lengkap Ibn Taimiyah adalah Taqiyyuddin Ahmad bin Abi Al-Halim binTaimiyah. Dilahirkan di Harran pada hari senin tanggal 10 rabiul awwal tahun 661 H dan meninggal di penjara pada malam senin tanggal 20 Dzul Qaidah tahun 729 H. Kewafatannya telah menggetarkan dada seluruh penduduk Damaskus, Syam, dan Mesir, serta kaum muslimin pada umumnya. Ayahnya bernama Syihabuddin Abu Ahmad Abdul Halim bin Abdussalam Ibn Abdullah bin Taimiyah, seorang syekh, khatib dan hakim di kotanya.
Dikatakan oleh Ibrahim Madkur bahwa ibn Taimiyah merupakan seorang tokoh salaf yang ekstrim karena kurang memberikan ruang gerak leluasa kepada akal. Ia adalah murid yang muttaqi, wara, dan zuhud, serta seorang panglima dan penentang bangsa tartas yang berani. Selain itu ia dikenal sebagai seorang muhaddits mufassir, faqih, teolog, bahkan memiliki pengetahuan luas tentang filsafat.
Pikiran-pikiran Ibn Taimiyah seperti dikatakan Ibrahim Madkur, adalah sebagai berikut:
a.         Sangat berpegang teguh pada nas (teks Al-Qur’an dan Al-Hadits)
b.        Tidak memberikan ruang gerak yang bebas kepada akal
c.         Berpendapat bahwa Al-Qur’an mengandung semua ilmu agama
d.        Didalam islam yang diteladani hanya tiga generasi saja (sahabat, tabi’in, dan tabi’i tabi’in)
e.         Allah memiliki sifat yang tidak bertentangan dengan tauhid dan tetap mentanzihkan-Nya.[5]
Ibn Taimiyah adalah seorang tektualis Oleh sebab itu pandangannya dianggap oleh ulama mazhab Hanbal, Al-kitab Ibn Al-Jauzi sebagai pandangan tajsim (antropomorpisme) Allah, yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, Al-Jauzi berpendapat bahwa pengakuan Ibn Taimiyah sebagai salaf perlu ditinjau kembali. Berikut ini merupakan pandangan Ibn Taimiyah tentang sifat-sifat Allah:
a.         Percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah yang ia sendiri atau rasul-Nya menyifati
a.         Percaya sepenuhnya terhadap nama-nama-Nya, yang Allah atau Rasul-Nya sebutkan.
b.        Menerima sepenuhnya sifat dan nama Allah.
Berdasarkan alasan diatas, Ibn Taimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat-ayat Mutasyabihat. Menurutnya, ayat atau hadist yang menyangkut sifat-sifat Allah harus diterima dan diartikan sebagaimana adanya, dengan tidak men-tajsim-kan, tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk, dan tidak bertanya-tanya tentang-Nya.

C.                 Metode Berfikir Kaum Salaf
Kaum salaf berpendapat, sebagaimana yang disimpulkan oleh Ibn Taimiyah bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui aqidah, hukum-hukum, dan segaa sesuatu yang berhubungan dengan-Nya, baik dari segi I’tiqad dan istidlaal-Nya kecuali dari Al-Qur’an dan sunnah yang menjelaskannya. Apa saja yang ditegaskan oleh Al-Qur’an dan apa saja yang diterangkan oleh Sunnah harus diterima, tidak boleh ditolak guna menghilangkan keragu-raguan.
Akal manusia tidak mempunyai otoritas untuk menta’wilkan Al-Qur’an, kecuali sekedar yang ditunjukkan oleh berbagai susunan kalimat Al-Qur’an dan yang terkandung dalam berbagai hadits. Bila sesudah itu akal mempunyai otoritas, maka hal itu hanya berkenaan dengan pembenaran dan kesadaran, akal hanya menjadi pembukti, bukan pemutus. Ia menjadi penegas dan penguat, bukan pembatal atau penolak, ia menjadi penjelas terhadap dalil-dalil yang terkandung dalam Al-Qur’an.[6]
Inilah metode salaf, yaitu menempatkan akal berjalan dibelakang dalil naqli, mendukung dan menguatkan nya. Akal tidak berdiri sendiri untuk dipergunakan menjadi dalil, tetapi ia mendekatkan makna-makna nash.

D.                Pemikiran-pemikiran Kaum Salaf
Ø    Ke-Esaan Tuhan
Salaf memandang wahdaniyyah sebagai asas pertama Islam. Merka menginterpretasikan wahdaniyyat dengan suatu interpretasi yang secara keseluruhan sesuai dengan apa yang ditegaskan oleh kaum Muslimin pada umumnya. Akan tetapi mereka menegaskan beberapa hal yang bertentangan dengan ke-Esaan Tuhan, Misalnya berkeyakinan mengangkat untuk mendekatkan diri (tawassul) kepada Allah dengan salah seorang hamba-Nya yang telah meninggal dunia bertentangan dengan ke-Esaan Allah, berziarah ke Raudhah seraya menghadap kepadanya menafikan ke-Esaan-Nya, menghadapkan diri (tawajjuh) dengan do’a kepada Allah sambil menghadap kekubur seorang Nabiatau seorang wali bertetangan dengan ke-Esaan-Nya, demikian seterusnya.
Ø    Ke-Esaan Dzat dan Sifat
Perbedaan pendapat para Ulama mengenai  makna-makna ini tidak mengakibatkan saling mengkafirkan. Karena hal itu merupakan perbedaan penalaran, bukan perbedaan pada hakikatnya. Kaum salaf tidak mengkafirkan seseorang pun dari mereka yang menentangnya, tetapi menganggap para penentang itu termasuk orang-orang yang sesat. Mereka memutuskan sesatnya para filosof, Mu’tazilah, kaum sufi yang mengatakan ittihad (manunggal dengan Tuhan) dan fana dalam dzat.
Ø    Ta’wil dan Tafwidh
 Pandangan diatas, menurut Ibn Taimiyah membawa kepada kesimpulan bahwa sikap yang paling selamat adalah tafwidh (pasrah tanpa menta’wilkan). Ia mengartikan suatu lafadz secara literal sebagaai pokok pengertiannya. Hanya saja ia menegaskan bahwa sifat-sifat tersebut tidaklah seperti sifat makhluk. Upaya penafsiran menurutnya merupakan kesesatan, ia bersandar kepada firman Allah:
uqèd üÏ%©!$# tAtRr& y7øn=tã |=»tGÅ3ø9$# çm÷ZÏB ×M»tƒ#uä ìM»yJs3øtC £`èd Pé& É=»tGÅ3ø9$# ãyzé&ur ×M»ygÎ7»t±tFãB ( $¨Br'sù tûïÏ%©!$# Îû óOÎgÎ/qè=è% Ô÷÷ƒy tbqãèÎ6®KuŠsù $tB tmt7»t±s? çm÷ZÏB uä!$tóÏGö/$# ÏpuZ÷GÏÿø9$# uä!$tóÏGö/$#ur ¾Ï&Î#ƒÍrù's? 3 $tBur ãNn=÷ètƒ ÿ¼ã&s#ƒÍrù's? žwÎ) ª!$# 3 tbqãź§9$#ur Îû ÉOù=Ïèø9$# tbqä9qà)tƒ $¨ZtB#uä ¾ÏmÎ/ @@ä. ô`ÏiB ÏZÏã $uZÎn/u 3 $tBur ㍩.¤tƒ HwÎ) (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇÐÈ
Share this article :

2 comments:

Post a Comment

Entri Populer

 
Support : Creating Website | Tamlona | Tamlona
Copyright © 2011. Kapanpunbisa - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger