Saturday, 15 February 2014

Roland Barthes di kenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktikkan model linguistik dan semiologi Saussurean. Barthes berpendapat bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.  Dalam penilaian John Lechte (2001), buku yang berjudul Sarrasine ditulis Barthes sebagai upaya untuk mengeksplisit kode-kode narasi yang berlaku dalam suatu naskah realis. Barhtes berpendapat bahwa Sarrasine ini terangkai dalam kode rasionalisasi, suatu proses yang mirip dengan yang terlihat dalam retorika tentang tanda mode. Lima kode yang ditinjau Barthes yaitu:
a.    Kode hermeneutik atau kode teka-teki, berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan “kebenaran” bagi pertanyaan yang muncul dalam teks.
b.    Kode semik (makna konotatif), banyak menawarkan banyak sisi. Dalam proses pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks.
c.    Kode simbolik, merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural.
d.    Kode proaretik (logika tindakan), perlengkapan utama teks yang dibaca orang, artinya semua teks bersifat naratif.
e.    Kode gnomik atau kode kultural, yang membangkitkan suatu badan pengetahuan tertentu. Kode ini merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan kondifikasi oleh budaya.
Tujuan analisis Barthes ini, menurut Lechte, bukan hanya untuk membangun suatu sistem klasifikasi unsur-unsur narasi yang sangat formal, namun lebih banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal, rincian yang paling meyakinkan, atau teka-teki yang paling menarik.  Roland Barthes merancang sebuah model sistematis, dengan model ini proses negosiasi, ide pemaknaan, interaktif dapat dianalisis. Inti teori Barthes adalah ide tentang dua tatanan signifikasi (orders of signification).

 
Two Orders of Signification dari Barthes

Barthes menjelaskan signifikansi tahap pertama merupakan hubungan penanda dan petanda dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi. Konotasi adalah intilah yang digunakan Barthes untuk signifikansi terhadap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya.  Pada signifikansi tahap kedua yang berkaitan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos.
Barthes berpendapat cara kerja mitos yang paling penting adalah menaturalisasi sejarah. Hal ini menunjuk pada fakta bahwa mitos sesungguhnya merupakan produk sebuah kelas sosial yang telah meraih dominansi dalam sejarah tertentu: makna yang disebarluaskan melalui mitos  pasti membawa sejarah bersama mereka, namun pelaksanaannya sebagai mitos membuat mereka mencoba menyangkalnya dan menampilkan makna trsebut sebagai alami (natural), bukan bersifat historis atau sosial.

a.    Denotasi
Makna denotasi adalah makna awal utama dari sebuah tanda, teks, dan sebagainya. Pada tahap ini menjelaskan relasi antara penanda (signifier) dan penanda (signified) di dalam tanda, dan antara tanda dengan objek yang diwakilinya (its referent) dalam realitas ekternalnya. Barthes menyebutnya sebagai denotasi. Denotasi merujuk pada apa yang diyakini akal sehat/orang banyak (common-sense), makna yang teramat dari sebuah tanda.

b.    Konotasi
Konotasi merupakan istilah yang digunakan Barthes untuk menjelaskan salah satu dari tiga cara kerja tanda di tahap kedua signifikasi tanda. Konotasi menjelaskan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pengguna dan nilai-nilai di dalam budaya mereka. Bagi Barthes, faktor utama dalam konotasi adalah penanda tanda konotasi. Barthes berpendapat dalam foto setidaknya, perbedaan antara konotasi dan denotasi akan tampak jelas. Denotasi adalah apa yang difoto, konotasi adalah bagaimana proses pengambilan fotonya.

c.    Mitos
Barthes menjelaskan cara yang kedua dalam cara kerja tanda di tatanan kedua adalah melalui mitos. Penggunaan lazimnya adalah kata-kata yang menunjukkan ketidakpercayaan penggunanya. Barthes menggunakan mitos sebagai orang yang mempercayainya, dalam pengertian sebenarnya. Mitos adalah sebuah cerita di mana suatu kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek dari realitas atau alam.

Mari kita kembali contoh sebelumnya tentang sebuah foto jalan yang kita gunakan untuk mengilustrasikan kontasi. Jika kita meminta  selusin fotografer untuk memotret sebuah situasi anak-anak yang sedang  bermain di jalan, bisa dipredeksikan sebagian besar akan menghasilkan tipe foto yang berbeda, bisa dengan kategori hitam putih, hard-focus, dan tidak hidup.
Konotasi dan mitos merupakan cara utama di mana tanda bekerja dalam tatanan kedua pertandaan, yakni tatanan di mana interaksi antara tanda dan pengguna atau kebuayaan paling aktif.  Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membuktikan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Mitos, oleh Barthes disebut sebagai tipe wicara. Ia juga menegaskan bahwa mitos merupakan sistem komunikasi, bahwa dia adalah sebuah pesan. Hal ini memungkinkan kita untuk berpandangan bahwa mitos tak bisa menjadi sebuah objek, konsep, atau ide; mitos adalah cara penandaan (signification), sebuah bentuk. Segala sesuatu bisa menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana.  Dalam mitos, sekali lagi kita mendapati pola tiga dimensi yang disebut Barthes sebagai: penanda, petanda, dan tanda. Ini bisa dilihat dalam peta tanda Barthes yang dikutip dari buku Semiotika Komunikasi, karya Alex Sobur:




1. signififier
    (penanda)
2. signified
    (petanda)

3. denotative sign (tanda denotatif)

4. CONNOTATIVE SIGNIFIER
    (PENANDA KONOTATIF)
5. CONNOTATIVE SIGNIFIED
    (PETANDA KONOTATIF)
6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)

Peta Tanda Roland Barthes

Dari peta Barthes di atas, terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan,tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Dengan kata lain hal tersebut merupakan unsur material: hanya jika anda mengenal tanda “singa” barulah konotatif seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin. Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya.

1 komentar:

Post a Comment

Categories

Popular Posts

SAHABAT BLOGGER

Ordered List