Sunday, 25 September 2011


 A.  Pengertian Kepemimpinan dan Karakteristiknya
Dalam bahasa Indonesia, “Pemipin” berasal dari kata pemimpin. “Pemimpin” sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, Pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua dan sebagainya.
Definisi kepemimpinan secara luas yaitu proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
Selain itu juga mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerjasama dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerjasama dari orang-orang diluar kelompok atau organisasi.
Kepemimpinan terkadang dipahami sebagai kekuatan untuk menggerakkan dan  mempengaruhi orang. Kepemimpinan sebagai sebuat alat, sarana atau proses secara sukarela/sukacita. Ada beberapa faktor yang dpat menggerakkan orang yaitu karena ancaman, penghargaan, otoritas, dan bujukan.
Kepemimpinan juga dikatakan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan pekerjaan para anggota kelompok. Tiga implikasi penting yang terkandung dalam hal ini yaitu:
1.    Kepemimpinan itu melibatkan orang lain baik itu bawahan maupun pengikut.
2.    Kepemimpinan melibatkan pendistribusian kekuasaan antara pemimpin dan anggota kelompok secara seimbang, karena anggota kelompok bukanlah tanpa adanya daya.
3.    Adanya kemampuan untuk menggunakan bentuk kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi tingkah laku pengikutnya melalu berbagai cara.
Pemimpin jika dialihbahasakan ke bahasa Inggris menjadi “leader”, yang mempunyai tugas untuk me-Lead anggota disekitarnya. Sedangkan makna lead adalah:
a.    Loyalty, seorang pemimpin harus mampu membangkitkan loyalitas rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya dalam kebaikan.
b.    Educate , seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi rekan-rekannya dan mewariskan tacit knowledge pada rekan-rekannya.
c.    Advice, memberikan sasaran dan nasihat dari permasalahan yang ada.
d.   Discipline, memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisipinan dalam setiap aktivitasnya.

Di dalam Islam kepemimpinan identik dengan istilah khalifah yang berarti wakil. Pemakaian kata khalifah setelah Rasulullah Saw wafat menyentuh juga maksud yang terkandung di dalam amir (yang jamaknya umara) atau penguasa. Oleh karena itu, kedua istilah ini dalam bahasa Indonesia disebut pemimpin. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al- Baqarah ayat 30 yang berbunyi:
  
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.

Firman diatas sangat jelas tidak sekedar menunjuk pada para khalifah pengganti Rasulullah saw, tetapi adalah penciptaan Nabi Adam dan anak cucunya yang disebut manusia dan dibebani tugas untuk memakmurkan bumi. Tugas yang disandang nya itu menempatkan setiap manusia sebagai pemimpin, yang menyentuh dua hal penring dalam kehidupan dimuka bumi. Tugas pertama adalah menyeru dan menyuruh orang lain berbuat amar ma’ruf sedang tugas kedua adalah melarang atau menyuruh orang lain meninggalkan perbuatan munkar.
Tidak semua orang mampu menjadi pemimpin bagi orang lain dengan baik mengikuti landasan Islam yang sebenarnya. Dunia akan kacau jika semua manusia ingin menjadi pemimpin dan enggan manjadi orang yang dimpimpin, ataupun sebaliknya semua orang ingin menjadi yang di pimpin dan tidak seorangpun yang mau menjadi pemimpin. Oleh karena itu, Allah swr dengan sifat bijaksananya dalam masalah kepemimpinan telah menjadikan manusia dalam 3 kategori sesuai dengan kepribadian manusia tersebut, yaitu ada golongan manusia yang dijadikan seorang pemimpin, golongan lain sebagai orang-orang yang di pimpin, serta orang –orang yang digolongkan sebagai pengadu-domba yaitu mereka yang enggan menjadi pemimpin dan enggan dipimpin.
Kriteria pemimpin dalam Islam
1.    Menggunakan hukum Allah
2.    Tidak meminta jabatan, atau menginginkan jabatan tertentu
3.    Kuat dan amanah
4.    Profesional
5.    Menempatkan orang yang paling cocok.

Menjadi seorang pemimpin harus bisa menjadi panutan bagi semua orang, ada beberapa karakter seorang pemimpin, 10 karakter seorang pemimpin dan 10 karakter bukan pemimpin.
1.    Ketka pemimpin melakukan kesalahan dia berkata “saya salah! “Ketika bukan pemimpin melakukan kesalahan dia berkata, “ini bukan salh saya!”.
2.    Pemimpin berkata, “saya sudah baik, tapi saya bisa lebih baik lagi”, bukan pemimpin berkata, “saya tidak sejelek orang lain!”.
3.    Pemimpin mencoba belajar dari orang yang lebih baik dari pada dia. Bukan pemimpin selalu mencoba menjatuhkan orang lain.
4.    Pemimpin berkata, “mari saya kerjakan ini untuk Anda!” bukan pemimpin berkata., “itu bukan pekerjaan saya!”.
5.    Pemimpin berkata, “pasti ada cara lebih baik mengerjakannya!” bukan pemimpin berkata, “Begitulah biasanya dikerjakan disini!”.
6.    Pemimpin berkata, “ ini sulit tapi mungkin! “bukan pemimpin berkata, “ini mungkin tapi sangat sulit untuk mengerjakan!”.
7.    Pemimpin selalu mempunyai rencana. Bukan pemimpin selalu cari alasan.
8.    Pemimpin mempunyai komitmen-komitmen. Bukan pemimpin hanya selalu menjadi bagian dari masalah.
9.    Pemimpin selalu menjadi bagian dari jawaban. Bukan pemimpin selalu menjadi bagian dari masalah.
10.     Pemimpin tuntas memecahkan masalah. Bukan pemimpin selalu tanggung-tanggung dan tidak pernah memecahkan masalah.

Karakteristik pemimpin yang berhasil memiliki sifat dan keterampilan tertentu. Cirinya antara lain dapat beradaptasi dengan situasi, peka terhadap lingkungan sosial, ambisius serta berorientasi pada hasil, tegas, dapar bekerjasama, menyakinkan, mandiri, mampu mempengaruhi orang lain, energik, tekun, percaya diri, tahan stress, dan memikul tanggungjawab. Sedangkan keterampilan yang harus dimiliki pemimpin antara lain cerdas, terampil secara konseptual, kreatif, diplomatis, dan taktis, lancar berbahasa, memiliki pengetahuan terhadap tugas kelompok, mampu mengorganisasi, mampu mempengaruhi dan menyakinkan dan memiliki keterampilan sosial.

B.  Permasalahan yang adalam Kepemimpinan Mahasiswa sebagai Iron Stock Penerun Bangsa

“Berikanlah aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncangkan dunia” (Soekarno).

Mahasiswa yaitu orang-orang yang punya intelektualitas, memiliki jati diri sebagai tonggak bangsa, dan mahasiswa itu berbeda dengan siswa khususnya dalam hal pola pikir, mahasiswa itu harus mampu berfikir dewasa dan ilmiah serta mandiri. Banyak orang mengatakan bahwa mahasiswa sebagai pemimpin bangsa masa depan. Mahasiswa dituntut untuk menjadi Agen of Change atau agen perubahan. Maksudnya adalah mahasiswa dalah orang-orang yang terdepan untuk membawa perubahan kearah lebih baik bagi bangsa ini. Peran mahasiswa sangat berat selain untuk menuntut ilmu juga dituntut berperan aktif untuk memperbaiki negeri ini. Tapi apakah kebanyakan mahasiswa sekarang sudah menjalankan perannya sebagaimana mestinya? Coba kita lihat kondisi mahasiswa sekarang. Masih banyak dari mereka bergelut dalam hedonism (mementingkan kehidupan duniawi) seperti dugem, sex bebas, narkoba, tawuran, dan sebagainya. Bagaimana negeri ini bisa berubah jika generasi penerusnya sudah tidak peduli lagi. Oleh karena itu, marilah kita kembalikan hakikat mahasiswa itu sendiri sebagai generasi penggerak dan penerus bangsa. Jadikan diri kita sebagai generasi penggerak yang bermoral. Jangan sampai kita memiliki kompetensi yang bagus tapi tidak bermoral. Seperti yang terjadi di negeri ini, banyak orang-orang yang pintar tapi masih melakukan korupsi. Maka dari itu kita juga wajib punya akhlak dan moral yang baik pula.
Fenomena yang tampak selama ini tidak menunjukan perubahan signifikan. Mahasiswa saat ini tak lebih hanya status yang disandang seseorang yang menuntut ilmu diperguruan tinggi.
Jika mengulas sejarah, yang kita rasakan saat ini merupakan buah dari yang diperjuangkan oleh generasi penerus, terutama mahasiswa. Apakah mahasiswa pada masa tersebut sama dengan mahasiswa pada era ini? Sulit untuk mengatakan “ya”. Namun, tak mudah pula mengatakan “tidak”. Jadi jangan bangga mengaku sebagai mahasiswa jika belum memberikan sesuatu yang berguna bagi bangsa dan generasi berikutnya.
Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan Pembina pada masa depan ditantang untuk memperlihatkan kemampuan untuk memerankan peranan itu. Jika gagal akan berdampak negatif pada masyarakat dipimpinnya, demikian pula sebaliknya.
Dalam perubahan sosial yang dahsyat saat ini, mahasiswa sering dihadapkan pada kenyataan yang membingungkan dan dilematis. Suatu pilihan yang teramat sulit harus ditentukan, apakah ia terjun dalam arus perubahan sekaligus mencoba mangarahkan dan mengendalikan arah perubahan itu, ataukah sekedar menjadi pengamat dan penonton dari perubahan atau mungkin justru menjadi korban objek sasaran dari perubahan yang dikendalikan oleh orang lain. Melihat realitas dan tantangan diatas, mahasiswa memiliki posisi yang sangat berat namun sangat strategis dan sangat menentukan. Bukan zamannya lagi untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi, tetapi harus mewarnai perubahan tersebut dengan warna masyarakat yang akan dituju dari perubahan tersebut adalah benar-benar masyarakat yang adil dan makmur.
Pada dasarnya ada tiga hal yang mencirikan apakah kita sudah layak dikatakan sebagai mahasiswa atau belum. Yang pertama adalah bahwa mahasiswa harus mempunyai agent of social control atau menyampai kebenaran, kejujuran dan integritas sangat diuji dalam hal ini. Memang pada dasarnya kebenaran itu hanya datang dari Tuhan yang Maha Kuasa. Namun kita sebagai manusia diberikan akal pikiran untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Itulah sebabnya mengapa mahasiswa butuh bersatu untuk mencapai kesepakatan dalam pencapaian misi menjadi agent of control.
Berikutnya yang kedua adalah mahasiswa dituntut untuk menjadi seorang agent perubahan. Perubahan yang dimaksudkan disini adalah pergerakan menuju yang lebih baik. Selain sebagai pengawal dan pengurus, kita juga dituntut untuk memberikan solusi atas timbulnya permasalahan. Untuk menjadi seorang agen perubahan tidaklah mudah. Harus ada langkah-langkah yang runtun juga tidak boleh ditinggalkan. Inilah tangtangan kita untuk mewujudkan makna dari mahasiswa sebenarnya.
Yang terakhir adalah mahasiswa sebagai iron stock atau generasi penerus. Tidak bisa dihindari bahwa kita sebagai mahasiswa mau tidak mau akan menjadi pengisi pondasi kekuasaan mendatang. Seiring berjalannya waktu kita akan terposisikan sebagai seorang yang harus mencetuskan keputusan, tidak lagi sebagai objek kekuasaan. Coba bayangkan bagaimana bila tiang kekuasaan dipegang oleh orang-orang yang berlabelkan mahasiswa asal jadi? Atau orang-orang yang tidak memiliki integritas, kejujuran dan budi pekerti? Tentunya kehancuran akan terus mendekat kepada kita. Agar tidak terjadi hal demikian, maka sudah sepatutnya kita menjadi seorang mahasiswa yang merangkap sebagai agent of control, agent of change dan iron stock.
Untuk memenuhi unsur-unsur diatas, seorang mahasiswa harus memiliki kekuatan softskil yang cukup. Diantaranya yang pertama adalah managemen waktu. Tidak terlepas dar keberhasilan seorang mahasiswa, bahwa manajemen waktu merupakan salah satu penentunya. Mereka yang berhasil mengatur waktu dengan baiklah yang memenangkan kompetensi menjadi mahasiswa sebenarnya. Yang kedua kemampuan dalam mengorganisir serta mengambil keputusan adalah tonggak menjadi seorang  yang teguh dalam hal leadership, yang ketiga adalah percaya diri dan akhlak yang baik. Hal ini juga cukup memiliki peran penting dalam pencapaian kesuksesan sebagai perwujudan seorang mahasiswa.
Jika ciri dan unsur diatas mampu kita jalani, maka masa depan bangsa ini kemakmuran dan kesejahteraan akan terlaksana di bawah pengendalian orang-orang yang memiliki integritas dan kejujuran.

C.  Bagaimana Membentuk Kepemimpinan, Indikator, Profesionalitas dan Visi yang Jelas

Sukses atau tidaknya suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sangat tergantung dari kemampuan para anggota pemimpinnya untuk menggerakkan sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia sehingga penggunaanya berjalan dengan efesien, ekonomis dan efektif. Dengan demikian maka kepemimpinan (leadership) merupakan motor atau daya penggerak daripada sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia dalam suatu organisasi. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan inti daripada manajemen.
Untuk membentuk kepemimpinan secara efesien dan efektif, ada beberapa komponen yang harus dimiliki agar memenuhi syarat tersebut. Berikut ini adalah komponen yang harus dimiliki seorang pemimpin yang efektif dan efesien.
Knowledge / pengetahuan
Seorang pemimpin harus memiliki pengetahun yang baik tentang kepemimpinan dan ilmu tentang ruang lingkup kerja profesionalnya yang terdiri dari pengetahuan kognitif maupun skill/ keterampilan. Seorang pemimpin akan dihadapkan pada situasi tertentu dimana dia harus mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Dasar untuk mengambil keputusan yang tepat adalah pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis yang dimiliki.
Oleh karena itu,  untukmenjadi seorang pemimpin yang efektif mampu mengambil keputusan yang tepat dalam suatu situasi tertentu maka harus memiliki pengetahuan tentang:
a.    Leadership / kepemimpinan
Seorang pemimpin harus mengetahui konsep kebutuhan dasar manusia, teori, motivasi, teori bekerja dalam kelompok dan ilmu perilaku. Dengan pengetahuan tersebut maka ia akan lebih bisa memahami karakter anak buah/ bawahannya dan hal ini bisa membantu leader dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan pada bawahan agar dapat mempengarui motivasi dan perilakunya agar dapat bekerjasama dalam mencapai tujuan.
Seorang pemimpin juga harus mengetahui gaya-gaya kepemimpinan yang sesuai untuk situasi-situasi tertentu sehingga dpaat mengambil sikap yang tepat dalam situasi tertentu. Leader juga harus memiliki visi yang jelas dan harus mensosialisasikan dan mengkomunikasikan visi tersebut kepada bawahan sehingga bawahan bekerja bukan karena terpaksa tapi karena mereka juga menginginkan hal tersebut.
 
b.    Pengetahuan tentang lingkup profesi
Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan yang baik tentang lingkup kerja profesinya baik pengetahuan kognitif maupun skill atau keterampilan sehingga dia bisa menjadi role mode dan panutan bagi bawahan, dapat menambahkan dan memberikan energy positif pada bawahan dalam melaksanakan tugas.

c.    Critical thinking/ berfikir kritis
seorang pemimpin harus mempunyai berfikir kritis dalam hal pengambilan keputusan yang tepat untuk kepentingan klien maupun dalam memberikan arahan kepada bawahan. hasil dari berpikir kritis akan ditemkan metode baru yang lebih efektif sehingga bawahan bekerja bukan hanya sekedar melakukan hal yang telah menjadi rutinitas tapi bisa mencoba hal baru yang lebih positif.

Self Awareness / Kesadaran Diri
Pemimpin yang baik harus mengenali dirinya dengan baik, diawali dengan mengevaluasi kekurangan dan kelebihan yang dimiliki sehingga kekurangan tersbeut dapat ditingkatkan.
Dengan kesadaran diri yang baik akan menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna, setiap manusia berhak untuk mengalami dan mengekspresikan rasa senang, sedih, kecewa, bahagia, cemas dan sebagainya. seorang pemimpin yang baik harus bisa mengenali tanda-tanda pada bawahannya dan selalu berusaha belajar cara menghadapi kondisi yang ada dengan cara yang baik.
kesadaran diri yang baik akan membangunkan rasa empati yang akan membentuk rasa kedekatan, kepercayaan dengan bawahan sehingga akan membangun suasana kerja yang harmonis, saling mengahargai dengan bawahan sehingga memudahkan dalam kerjasama dalam mencapai tujuan. seorang pemimpin yang baik tidak ragu untuk meminta evaluasi dari bawhaan tentang gaya kepemimpinannya dan begitu pula sebaliknya. masukan-masukan tersebut dijadikan motivasi untuk merubah diri kearah yang lebih baik.

Komunikasi
Komunikasi adalah jantungnya kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik terhadap teman maupun bawahan karena komunikasi yang baik merupakan satu strategi dalam mempengaruhi orang lain.
Teknik komunikasi yang harus diantaranya:
a.    Mendengar aktif (Avtive Listening)
Pemimpin yang baik akan memahami bahwa mendengarkan bawahannya akan membuat mereka merasa dihargai dan merupakan sarana untuk mendpatkan feed back dari mereka. Mendengar aktif akan membuat bawahan dapat mengungkapkan perasaan sehingga kebutuhan psikologinya dapay terpenuhi dan sekaligus mengurangi rasa cemas yang dirasakannya.

b.    Menyusun arah /arus informasi
Pemimpin harus membentuk alur komunikasi yang efektif sehingga dapat menghindari terjadinya miskomunikasi yang baik antara leader dengan bawahan, bawahan dengan rekan kerja maupun dengan pasien. Oleh karena itu , pemimpin yang baik harus membangun suasana atau alur komunikasi yang biak pada saat bertemu maupun tidak bertatap muka.

c.    Asertif
Pemimpin yang baik harus mempunyai sifat asertif terhadap bawahan, leader harus menyediakan waktu untuk menerima masukan baik dari pasien maupun dari bawahan dan begitu pula sebalinya. Masukan disampaikan dengan cara yang membangun, jelas, konstruktif dan tidak menyakiti.
Seorang pemimpin yang tidak baik apabila menemukan kesalahan yang dilakukan oleh bawahan tidak mengeluarkan kata-kata yang membuat bawahan tersebut merasa sangat bersalah dan menyakiti hatinya. Feedback yang baik adalah memberikan kata yang bijak tanpa menyakiti diikuti dengan pemberian informasi tentang apa yang seharusnya dilakukan.

d.   Saling memberi umpan balik
Anggota tim atau bawahan membutuhkan evaluasi atau feedback seperti halnya pemimpin. Feedback berfungsi untuk meningkatkan seld awareness / kesadaran diri mencegah asumsi negatif terhadap perilaku seseorang dan untuk menjadi petunjuk dan motivasi dalam proses perubahan kearah yang lebih baik.

e.    Mengkomunikasikan Visi
Seorang pemimpin harus mempunyai visi yang jelas dan harus mengkombinasikan dengan baik kepada bawahannya. Kemampuan mengkomunikasikan visi dengan baik akan dapat membangun motivasi, kerjasama dan memberikan energy yang baik bagi bawahan dalam bekerja untuk mencapai tujuan. Visi yang jelas bukan karena keterpaksaan tapi karena mereka juga menginginkan hal itu.

Energi
Seorang pemimpin harus terus menerus terampil dengan energy yang baik dalam penampilan dan pekerjaanya. Untuk memiliki energy yang biak dan semangat yang baik maka seorang pemimpin harus memiliki rasa percaya diri dan memiliki hidup yang seimbang sehingga enersi dapat terus menerus terjaga.
Pemimpin yang selalu terlihat semangat dalam penampilan dan bekerja akan memotivasi bawahan untuk meningkatkan motivasi  dan produktivitas bawahannya. Energi yang dimiliki seorang pemimpin akan mempengaruhi respon bawahan terhadap dirinya maupun terhadp pekerjaan yang dilakukan.

Bagaimana membentuk Visi yang jelas?
Tugas utama seorang pemimpin adalah menggerakkan organisasi menuju sebuah tujuan di masa depan. Oleh karena itu kepemimpinan harus diawali dengan sebuah visi yang jelas. Tanpa visi seorang pemimpin bagaikan seorang kapten kapal yang tidak memiliki arah dan tujuan. Kapal yang dia bawa akan terombang-ambing oleh ombak dan gelombang. Oleh karena itu, sebagai pemimpin perlu memahami apakah visi itu serta bagaimana menggali dan mengimplementasikannya dalam bentuk nyata.
Visi sebaiknya sederhana mudah di cerna dan di mengerti, realistic, menarik, dan yang paling penting mampu dilaksanakan serta mampu memotivasi seluruh stake holder (semua pihak yang terlibat dengan organisasi).

0 komentar:

Post a Comment

Categories

Popular Posts

SAHABAT BLOGGER

Ordered List